Selamat datang di Blog Buruh FSBDSI - Tapal Batas

KENAPA BURUH TERANIELISASI

Kesengsaraan dan gelisahan muncul ketika hidup terasa sempit, susah bergerak, dipasung oleh kekuatan raksasa yang angkuh, dan diperlakukan sebagai budak. Hal ini terjadi ketika slogan-slogan kemakmuran dan janji-janji “suci” politik dari penguasa telah menjadi sampah ideologis. Kemiskinan tetap lanjut, perbudakan tidak jelas kapan usai, dan mimpi tentang kemakmuran menjadi bahan tertawaan.
Akhir kehidupan ini terasa asing, aneh, dan berat. Kehidupan yang layak susah dibeli; tanah-tanah kita dari nenekmoyang kita telah habis terjual untuk membeli hidup yang terlampau mahal; suami atau isteri kita telah putus asa dan anak-anak kita sebentar lagi akan jadi bajingan; dan kita, berada dalam kesunyian, dengan tanpa apa-apa.
Inikah alienasi? Tunggu dulu, aku belum selesai. Kita sedang berada di titik nol kehidupan; tidak sanggup lagi berbuat apa-apa kecuali menggadaikan tenaga dan harga diri kita kepada pemilik modal besar atau kepada borjuis kecil. Sama saja. Kesempatan kita telah dirampas oleh mereka. Kita terpaksa menjual diri untuk diperlakukan sebagai budak dengan upah yang sangat rendah. Jika tidak, dengan apa kita membayar orang-orang yang menggali kubur untuk jasad anak-anak kita esok?
Alienasi, dalam perspektif Marxis, digambarkan sebagai suatu keadaan dimana kita (buruh) benar-benar ditekan oleh kekuatan dari hasil kreasi kita sendiri, yang membenturkan dirinya sebagai kekuatan asing. Alienasi terjadi dalam sistem ekonomi kapitalis yang berorientasi pada akumulasi dan konsentrasi modal, yang menginginkan pendapatan berlipat dengan membayar pekerja dengan upah yang murah. Dalam terminologi marxis, pendapatan itu disebut nilai lebih (surplus value). Konsekuensinya, buruh dijatukan dan berada dalam level yang mengerikan, sebagai komoditas yang paling sial. Kesialan itu tdak serta merta disadari oleh buruh karena tertutup oleh paket-paket kenyamanan semu yang ditawarkan atau disediakan oleh kapitalis. Tetapi kenyamanan itu tidak sebanding dengan kekuatan dan volume produksinya. Buruh menjadi sangat miskin jauh melebihi kekayaan yang ia produksi, menjadi komoditas yang paling rendah, dan, samasekali, tidak dihargai sebagai tangan-tangan yang berkarya. Inilah alienasi.
SEBUAH TRAGEDI
Situasi seperti ini bisa dinamai sebagai tragedi kemanusiaan. Manusia sudah tidak lagi mengenali dirinya dengan sadar. Kemiskinan dan ketidaksadaran terjadi secara massal. Dari lorong-lorong kota hingga kampung kampung terpencil negeri ini (Indonesia), mengalami disoriental dan rasa putus asa yang massif menjadi tontonan yang mengerikan. Anak-anak yang baru saja lahir di dahinya tertulis “bajingan”. Kata-kata kesejahteraan, kemakmuran, harmoni, yang keluar dari mulut orang-orang “bijak” telah menjadi bualan, dan hanya cocok untuk telinga anak-anak anjing.

Problem serius ini bisa teratasi --- meski lama --- jika seluruh orang-orang tertindas, yang tercermin dalam kelas buruh, mengusahakan pemberontakan. Pemberontakan adalah cara yang sungguh-sungguh untuk melakukan transformasi. Perubahan-perubahan tata sosial di masyarakat dan sistem dalam suatu negara hanya bisa dilakukan hanya dengan cara memberontak. Memberontak berarti berpikir berbeda. Memberontak dalam konteks ini berarti memotong jalur-jalur penindasan dengan membuka jalan-jalan untuk pembebasan. Riilnya, pembentukan komunitas-komunitas kecil, forum-forum diskusi kecil, perlu diupayakan untuk membentuk masyarakat yang radikal dan kritis, yang secara bertahap, menyatu dan menjadi besar. Komunitas-komunitas dan forum-forum kecil itu berdiskusi secara intensif, menyepakati perspektif baru tentang politik, menggodok kader-kader yang loyal, tulus, dan berintegritas, membuat opini, menciptakan momentum, mensosialisasikan visi dan misinya, dan mendesain pemberontakan pemikiran tanpa kekerasan.

Selamat memberontak.


(Artikel By. Cecep Agus Setiawan)
 
Support : IT DEV | Creating Website | Johny Template | Mas Templatea | Pusat Promosi
Copyright © 2011. Teknisi Panggilan - All Rights Reserved
Template Created by Website Buruh Modify by Deda Priatna
Proudly powered by Blogger